kayu, bisnis yang menggiurkan

Kayu, Bisnis Mengiurkan
KEBERADAAN unit penggergajian termasuk usaha yang merakyat pada sejumlah wilayah di Jawa Barat yang berdekatan dengan wilayah kehutanan. Sentranya terutama berada di wilayah selatan, yaitu Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur, dan Sukabumi, yang biasanya berkembang seiring dengan adanya hutan produksi di sekitarnya.
Bisnis penggergajian memang menggiurkan karena pasokan kayu selalu dibutuhkan masyarakat bahkan terus meningkat. Apalagi setelah pemerintah melakukan reboisasi di luar Pulau Jawa, pemenuhan kebutuhan kayu menjadi lebih bersifat lokal, baik yang dipasok Perum Perhutani maupun kayu milik masyarakat.
Modal usaha penggergajian kayu tergolong mahal karena mengoperasikan mesin-mesin jenis circlesaw dan chainsaw yang harganya puluhan juta rupiah/unit sampai jenis bandsaw harganya di atas Rp 100 juta/unit. Kontinuitas pasokan kayu menjadi kebutuhan utama, apalagi banyak pengusaha harus membayar cicilan karena banyak yang membeli secara kredit.
Karena kondisi tersebut, para pemilik usaha penggergajian tentu saja harus seoptimal mungkin memperoleh pasokan kayu. Namun, pasokan kayu tak seimbang dengan kebutuhan. Akibatnya, sebagian unit penggergajian berhenti usaha atau berpindah ke pinggiran hutan negara. Akibatnya, terjadi perambahan hutan negara dan penebangan liar.
Informasi dari Dinas Kehutanan Jabar, jumlah industri hutan kini ada 1.922 unit dengan kapasitas produksi kayu 2.449.663 m3/tahun. Sementara itu, kebutuhan bahan baku mencapai 4.899.326 m3/tahun. Khusus jumlah tebangan kayu rakyat Jabar 1,5 juta m3/tahun dengan nilai rata-rata terendah Rp 750.000.000,00/m3, totalnya nilainya di atas Rp 2 triliun/tahun.
Persoalannya kemudian, setelah berbagai hutan negara diamankan dari penjarahan, bahan baku tebangan kayu otomatis menjadi berkurang. Untuk memperoleh kontinuitas bahan baku, para pengusaha penggergajian harus meningkatkan pasokan dari hutan milik rakyat.
Sejak beberapa tahun terakhir, banyak pengusaha penggergajian semakin aktif membeli kayu-kayuan dari masyarakat untuk menutupi kebutuhan yang tak seimbang pasokan. Jika dahulu masyarakat yang akan menjual kayu harus mendatangi penggergajian, kini pengusaha penggergajian yang mendatangi masyarakat.
Tak heran, produk-produk kayu rakyat harganya terus naik, misalnya kayu sengon/albasia semula Rp 800.000,00/m3 dari kebun, kini Rp 1.100.000,00-1.200.000,00/m3, kayu mahoni dari semula Rp 1,5-1,6 juta/m3 menjadi Rp 2 juta/m3. Kayu jati jelas lebih tinggi lagi.
Melambungnya harga kayu rakyat, dibenarkan pemilik usaha penggergajian di Kec. Kawali, Kab. Ciamis, Iip Syarif. “Harga kayu rakyat naik karena permintaan juga naik,” katanya, seraya menambahkan, “Kondisi demikian, tentu saja akan membuat hutan kayu rakyat menjadi andalan utama pasokan kayu baku unit penggergajian.”
Kepala Dinas Kehutanan Jabar, Anang Sudarna, mengatakan, pertumbuhan unit usaha penggergajian di Jabar rata-rata 20%/tahun. Pertumbuhan sebesar itu, umumnya disebabkan bisnis kayu memang menggiurkan.
“Kami bekerja sama dengan pemda untuk menertibkan unit penggergajian yang tak memiliki izin. Karena bertambahnya jumlah unit penggergajian liar, akan berdampak kepada keamanan lingkungan dan mengganggu rehabilitasi hutan,” katanya.
Menurut dia, proteksi terhadap produk kayu-kayuan masyarakat, masih mengandalkan Permen Kehutanan No. 33/2007, yang mengatur legalitas asal usul produk kayu masyarakat.
Jenis-jenis kayu yang memerlukan surat keterangan asal-usul (SKAU) dari kantor desa/pejabat setingkat, khusus di Jabar, adalah akasia, asam kandis, durian, suren, jabon, gmelina, karet, katapang, kayu manis, makadamia, mindi, petai, puspa, sengon/albasia, sungkei. Sementara itu dari Perum Perhutani adalah Surat Keterangan Sahnya Kayu Bulat (SKSKB) yang diberi cap kayu rakyat adalah kayu rakyat untuk jenis jati, mahoni, rasamala, sonokeling, dan pinus.
Kendati produk kayu rakyat akan terus dicari dan semakin bernilai jual, Anang optimistis, situasinya tak akan berdampak negatif atas rehabilitasi hutan rakyat. Soalnya, belakangan ini masyarakat lebih cermat mengatur tebangan dengan jumlah penanaman baru.
Contohnya, di Kab. Ciamis, masyarakat membeli bibit pohon kayu-kayuan sampai 1,5 juta batang/tahun. Karena produksi kayu rakyat dari Ciamis 450.000 m3/tahun. Jika setiap pohon menghasilkan kayu 0,4 m3, yang ditebang 1 juta pohon.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s